TUNISIA: AFRIKA YANG BERBEDA

Sebelum tiba di Tunisia, di Afrika Utara, bayangan saya adalah negeri yang seperti umumnya Afrika yang gersang, penuh dengan binatang liar dan padang pasir. Dalam perjalanan selama 5 hari, pandangan saya berubah, Afrika bukan selalu berarti safari fauna dan padang yang gersang. Tunisia adalah Afrika yang berbeda.


The Sights

Carthage

Pertama kali mendarat di Tunisia, perjalanan langsung menuju ke Carthage 15 km dari ibu kota Tunis. Reruntuhan masa Romawi dengan romantisme masa lampau langsung memukau perhatian saya. Tunisia yang hanya berjarak 155 km dari bagian selatan Italia memang pernah diduduki bangsa Romawi sehingga banyak peninggalan bersejarahnya yang berasal dari masa tersebut. 

Carthage sendiri diperkirakan ditemukan pada tahun 813 oleh Ratu bangsa Fenisia, Elisa yang lebih dikenal dengan nama Dido. Pada masanya Carthage merupakan kota paling berkuasa di Mediterannea sebelum kebangkitan Roma. Ketika Carthage ingin menguasai Sisilia, Roma melawan dan terjadi perang Punic. Pada tahun 146, Roma menguasai Carthage dan kemudian membangun kembali kota tersebut dan sekali lagi Carthage menjadi makmur. Di Carthage jaman sekarang, pengunjung antara lain dapat melihat sisa-sisa reruntuhan amphitheatre, rumah tinggal sampai permandian bangsa Romawi, Antonin yang menghadap langsung laut Mediteranea yang indah.

Dougga

Keesokan harinya, kami beralih ke Dougga, UNESCO World Heritage Site sekitar 3 jam berkendara dari kota Tunis. Dalam perjalanan saya lagi-lagi ternganga melihat betapa hijaunya alam Tunisia. Bukit dan padang rumput di kanan kiri mematahkan anggapan saya mengenai gersangnya Afrika. Tunisia ternyata memang penghasil buah zaitun, gandum, barley sampai anggur.

Kekaguman saya tidak berakhir di situ, saat tiba di Dougga, sekali lagi saya terperangah. Reruntuhan kota kuno jaman Romawi dengan pilar-pilarnya, teater dan letaknya 550 meter di atas  permukaan laut memberikan pemandangan luar biasa ke perbukitan di sekitarnya. Dougga ternyata peninggalan bersejarah yang paling banyak dikunjungi turis di Tunisia. Alasannya jelas, peninggalan masa kerajaan Numidian ini masih berdiri lengkap dengan tembok kota, kuburan, kuil dan yang paling penting Mausoleum dari abad ke 2-3 sebelum Masehi. Untuk sesaat, pada waktu memandang ke perbukitan dengan reruntuhan kota, saya seperti berada di Machu Picchu versi kecil. Luar biasa.

Kairouan

Kota Kairouan yang berada 160 km dari Tunis terkenal sebagai salah satu obyek utama Tunisia. Disebut-sebut sebagai kota Islam paling penting setelah Mekkah dan Medinah, Kairouan memang memiliki sejarah Islam yang signifikan. Ditemukan oleh bangsa Arab pada tahun 670 di masa Kalifah Mu’awiya kota ini menjadi tujuan belajar agama Islam dan Al Qur’an sehingga menjadi daya tarik bagi para umat Muslim setelah Mekkah dan Medinah.

Peninggalan bersejarah penting di Kairouan adalah Masjid Agung Sidi-Uqba yang masih menggunakan sebagian besar konstruksi aslinya. Minaretnya disebut-sebut sebagai karya masterpiece dalam dunia Islam. Begitu masuk, saya  langsung tertegun akan kecantikan mesjid dengan 414 buah kolom marmer dan granit serta karpet buatan tangannya. Perhatikan detil-detil lainnya dari chandelier, pintu penuh ukiran sampai mihrab, semuanya luar biasa memukau dan kaya sejarah. Salah satu mesjid yang paling penting di dunia dan yang paling mengesankan bagi saya pribadi.

Bagian Kairouan yang juga penting untuk dikunjungi juga adalah Mausoleum of Sidi Sahab. Masjid ini dikatakan sebagai tempat beribadah teman Nabi Muhammad, Abu Zama’ al-Balaoui.  Untuk melihat kehidupan sehari-hari warga lokal Kairouan jaman sekarang coba kunjungi pasarnya. Kairouan Souk menjual segala jenis keperluan sehari-hari, makanan lokal, sampai cinderamata untuk para pelancong. Jalan-jalanlah mengitari pasarnya, masuk ke toko-toko kecilnya, pengunjung dipersilahkan menawar untuk mendapatkan harga yang pantas, kemudian jika lelah, bisa duduk minum teh atau mengisap sisha di kafe-kafe yang ada.

Sidi Bou Said

Foto paling populer saat saya post di Instagram KartuPosInsta adalah foto Sidi Bou Said di Tunis. Area ini memang salah satu tujuan paling populer di Tunis. Jelas saja, perpaduan warna cat biru dan putih di semua bangunan yang ada memikat siapapun untuk mengunjunginya. Seorang pelukis Prancis Rodolphe d’Erlanger dikatakan sebagai yang berjasa memberikan tema biru putih pada kota ini sejak tahun 1920an.

Gang-gang kecil berlorong-lorong menjadikan kunjungan ke Sidi Bou Said lebih berkesan. Jalan agak sedikit jauh sampai ke Café de Delices untuk mencapai bagian yang menghadap ke laut Mediterania. Di sini pengunjung dapat bersantai dan mengambil foto dengan suasana seperti di Santorini tentunya dengan skala yang lebih kecil.

Selagi menelusuri Sidi Bou Said yang naik turun jangan sampai melewatkan Bamboulouni, penganan khas Tunisia seperti donat namun lebih ringan dan langsung meleleh di mulut. Hanya 4000 perak rupiah tapi rasanya sungguh enak tidak terlupakan.

Selain Sidi Bou Said, Tunis terkenal akan Bardo National Museum yang menyimpan banyak keindahan sejarah Tunisia. Sempatkan paling tidak 2 jam untuk melihat peninggalan mosaik Roman terbesar di dunia. Yang juga pantang dilewatkan di Tunisia adalah Amphitheatre of El Jem, teater terbesar di Afrika Utara yang dibangun di kota El Jem pada abad ketiga untuk menyaingi keindahan Colosseum Roma. Di sini pengunjung bahkan bisa masuk ke bawah panggung teater untuk membayangkan sendiri kemegahan kehidupan masa lalu di Tunisia.


The Food & Souvenir

Bicara soal kuliner, ada beberapa makanan khas Tunisia yang pantang dilewatkan, Siapa yang tidak kenal Kambing Afrika? Saat makan siang dengan Dubes Indonesia untuk Tunisia, kami diajak menikmati makanan khas lokal Mechoui yang dihidangkan dengan salad dan kentang goreng. Kambing dipotong persis di depan restoran, mungkin untuk menarik perhatian pengunjung. Yang jelas semua kursi terisi penuh saat kami makan siang waktu itu. Porsinya cukup besar jadi sebelum memesan sebaiknya bertanya terlebih dahulu kepada pelayan kira-kira yang dibutuhkan.

Selama perjalanan selama 5 hari, kami juga mencobai sup pedas Chorba, martabak telur Tunisia, Bourek serta Dolma beragam sayuran yang diisi filling daging ataupun vegetarian. Restoran yang menyajikan menu-menu tersebut dan saya rekomendasikan untuk dikunjungi adalah Dar Zaghouane karena atmosfirnya yang menyenangkan. Kami tidak melihat turis asing pada restoran itu, yang ada hanya warga atau pelancong lokal. Yang membuat restoran ini menjadi lebih menarik adalah sajian hiburan musik dan tarian lokal yang mengajak pengunjungnya untuk ikut bernyanyi dan menari bersama. Makan dan terus bergembira dengan bernyanyi dan menari. Siapa yang tidak jatuh hati?

Selesai makan, kunjungi komplek hotel dimana restoran ini berada yang memiliki pondokan-pondokan kecil dengan jajaan lokal khas Tunisia menarik buat dibawa pulang.

Oleh-oleh dari Tunisia beragam dari kue tradisional, kain sampai karpet. Kariouan misalnya terkenal dengan kerajinan karpetnya. Di toko Dar Allani, ada beragam motif karpet buatan tangan dalam banyak ukuran yang dijajakan dalam rumah ini. Sedangkan di Nabeul, jangan lupa membeli keramik dari Kedidi, baik dari mangkok sampai asbak, semua dihias dalam beragam warna dan bentuk yang menarik.

The People

Yang membuat pengalaman perjalanan saya di Tunisia begitu mengesankan adalah orang-orangnya. Mereka begitu ramah pada pelancong. Bukan hanya pemandu wisata saja atau mereka yang menjual barang untuk turis, tapi begitu juga dengan orang-orang di pinggir jalan. Saat berjalan-jalan beberapa kali kami dihampiri untuk berfoto bareng dengan keluarga mereka. Mungkin mereka jarang melihat wajah Asia? Apapun alasannya, keramahan dan kehangatan orang-orang di Tunisia menjadikan pengalaman kami menjadi lebih berkesan. Terima kasih Tunisia. (Kenny Santana)


Getting There & Around

Qatar Airways terbang tiap hari dari Jakarta dan Denpasar ke Tunis via Doha. Untuk jadwal dan booking via situs mereka www.qatarairways.com/id Qatar Airways beberapa kali dalam setahun mengadakan sale dan harga promo Jakarta-Tunis pp bisa diperoleh sekitar $1200.

Untuk tur guide yang berpengalaman, ramah dan fasih mengenai sejarah Tunisia, hubungi Oussama di [email protected]

Buat rekomendasi hotel, di Tunis saya tinggal di Regency Hotel yang merupakan hotel bintang 5 dengan pemandangan sunrise yang luar biasa. Saya juga sangat menyukai Hasdrubal Thalassa & Spa di kota resort Hammam Sousse, satu jam dari Tunis.

Artikel ini pernah dimuat di Herworld Indonesia.

TOPICS:

Comments (0)

dede 4 years, 5 months ago

apakah untuk wni bisa mendapatkan visa on arrival ? terima kasih "o"

Reply

Send Your Comment

required

required (not published)

optional