THE THIEF OF MY HEART

The Thief yang merupakan hotel pertama persis di muka fjord dan bagian dari proyek peremajaan kota di area Tjuvholmen, Oslo, ini telah menjadi buah bibir para pencinta desain sejak dibuka awal tahun ini. Simak pengalaman menginap saya di The Thief.

Sebelum memilih tinggal di sini, hampir semua situs liburan maupun desain menggembar-gemborkan keberadaan The Thief yang masih gres. Salah satu alasannya karena lokasinya di Tjuvholmen (diterjemahkan menjadi Thief Island) merupakan bekas daerah buangan para kriminal pada abad ke-18, dan sekarang dipugar seluruhnya dan menjadi kawasan modern yang nyaman untuk dikunjungi.

Gedung sembilan lantai The Thief dibangun menjadi kesatuan bersama bangunan-bangunan lainnya di area Tjuvholmen. Beberapa di antaranya Astrup Fearnley Museum yang menyediakan akses masuk gratis untuk tamu The Thief, beberapa galeri seni, dan Tjuvholmen Sculpture Park.

Selain lokasinya, seluruh hotel ini memang dekat dengan dunia seni. Ruang publik dan kamar yang berjumlah 119 masing-masing memiliki karya seni kurasi dari Sune Nordgren, mantan Direktur National Museum of Art Norwegia ataupun pinjaman dari Astrup Fearnley Museum, mulai dari foto hitam putih Kate Moss karya Bryan Ferry hingga kolase foto seniman pop Sir Peter Blake di kamar Oslo suite. Selain itu, setiap kamar juga memiliki interactive TV yang menawarkan peta tematik tur seni, desain, arsitektur Oslo Escape Routes. Fitur lainnya adalah video art yang khusus dirancang Julian Opie di dalam lift hotel.

Bukan hanya karya seni untuk hiburan mata dan jiwa, hotel ini sangat memerhatikan detail-detail kecil untuk kenyamanan tamunya. Termasuk di antaranya bathrobe rancangan desainer lokal Maggie Wongka, His n Her wool slipper buatan Runa Klock, serta throw dan selimut wool dari Røros Tweed dan L&J. Hal lain lagi yang langsung menarik perhatian saat memasuki kamar di The Thief adalah jumlah bantalnya yang mencapai sembilan banyaknya! Tamu benar-benar seperti berada di pulau kapuk impian di sini.

Interior hotel merupakan bagian penting dari The Thief. Bekerja sama dengan DogA, the Norwegian Centre for Design & Architecture, 13 desainer lokal terpilih untuk mengisi ruang-ruang hotel dengan karya mereka. Beberapa highlight di antaranya Knitting Clock dari Siren Elise Wilhemsen, Unice Amber Vase dari Anne Haavind, dan lampu Tint dari Magnus Pettersen. Perpaduan karya lokal dan internasional memang mencerminkan atmosfer The Thief secara keseluruhan.

Kamar dihiasi furnitur dari desainer internasional Patricia Urquiola dan Antonio Citterio, lampu dari B&B Italia dan Brand van Egmond, kasur buatan perusahaan Swedia, Hilding. Produk-produk ini menjadi kesatuan yang sempurna di tangan desainer interior kebanggaan Norwegia, Anemone Wille Våge yang memadukannya di dalam rancangannya. Våge mempermainkan kontrasnya panel kayu warna tua dengan panel lampu backlit, karpet cokelat tua dengan lantai parket warna muda dan tirai warna pasir. Interior The Thief memang berbeda dari kebanyakan gaya Skandinavia yang melulu mengaplikasikan warna muda dan bentuk minimalis.

Eksterior The Thief juga tidak kalah menawan dari interiornya. Sejak saat menyeberangi jembatan untuk menuju hotel, pengunjung sudah dapat mengagumi keindahan gedung yang dikelilingi air fjord. Arsitek Mellbye Architekter AS membangun hotel ini dengan dekorasi kaca, granit dan emas untuk mengimbangi Astrup Fearnley Museum yang dirancang Renzo Piano. Bentuknya yang berkurva tidak biasa seperti hotel pada umumnya, serta pengambilan warna gelap sengaja diaplikasikan demi memperkuat kesan surreal dan mistis pada bangunan ini. “Pengunjung yang melihat hotel ini akan tertegun dan berpikir apakah itu bangunan sesungguhnya bukan sekadar efek komputer.” begitu ungkap Ajas Mellby kepala arsitek The Thief.

Balkon di tiap kamar dibangun dari panel-panel kayu dan kaca berwarna emas. Sama halnya dengan semua kamar memiliki façade kaca untuk menikmati pemandangan kota,fjord dan kanal-kanal Oslo, tapi sekaligus juga memanfaatkan cahaya matahari untuk masuk dan memberi kehidupan di dalam ruangan. Penggunaan kaca ini juga memberikan efek bayangan dari lingkungan sekitar hotel sehingga menjadi pertunjukan kehidupan yang dramatis. The Thief memang penuh drama yang tidak biasa terdapat di sebuah hotel pada umumnya. Dan sesuai dengan namanya, karena itulah hotel ini akan mencuri hati pengunjungnya. (Kenny Santana)

Artikel ini pernah dimuat di Bravacasa Indonesia.

TOPICS:

Comments (0)

There are currently no comments

Send Your Comment

required

required (not published)

optional