MENGANGKAT POPULARITAS MUSEUM ALA WASHINGTON DC

Washington DC barangkali menawarkan lebih banyak atraksi cuma-cuma dibandingkan kota besar lain di dunia. Museum gratis, misalnya, menjadi magnet yang mengarahkan kaki-kaki para pelancong ke sini. Tak heran kota ini masuk dalam jajaran tujuan wisata paling populer di Amerika Serikat (AS).

The Smithsonian

Sebelum tiba di Washington DC, banyak pelancong yang hanya selintas mendengarnya. Mereka mengira tempat ini sekadar satu museum di ibu kota Amerika Serikat. Padahal, The Smithsonian sendiri merupakan institusi pendidikan yang sudah berdiri sejak 1846 dan kini memiliki paling tidak 19 museum dan galeri –18  di DC dan 1 di New York– serta 1 kebun binatang nasional. Bayangkan, ada begitu banyak pilihan museum, galeri, dan kebun binatang yang bisa dikunjungi gratis setiap hari, kecuali pada saat Natal, kala tempat-tempat ini tutup.

Bagaimana The Smithsonian bisa membebaskan biaya masuk bagi para pengunjungnya? 70 persen dana yang diperlukan institusi ini berasal dari pemerintah. Sisanya dikumpulkan dari keuntungan penjualan merchandise, makanan atau tiket event khusus serta sumbangan pribadi. Pada kotak-kotak donasi yang tersebar di museum-museum tersebut, pengunjung juga dapat memberikan sumbangannya secara sukarela.

Membebaskan biaya masuk menjadi resep ampuh bagi museum-museum di Washington DC untuk meraih jumlah kunjungan yang tinggi. Pada 2013 saja, ada sekitar 30 juta kunjungan ke semua museum The Smithsonian padahal museum-museum ini sempat berhenti buka karena government shutdown. Sampai Juli 2014 ini, sudah tercatat 14 juta kunjungan.

Pada daftar 20 museum yang paling banyak dikunjungi di seluruh dunia lansiran CNN, 4 di antaranya ada di Washington DC. Empat museum lain yang ada di Inggris juga merupakan museum-museum gratis. Washington DC juga termasuk dalam 10 besar kota dengan kunjungan terbanyak di Amerika. Bukan tidak mungkin salah satu alasan kedatangan para pengunjung ke kota ini adalah ketertarikan menyambangi museum-museum gratis kenamaan ini.

Pada suatu hari yang baik di musim panas kemarin, kaki saya menyusuri beberapa museum The Smisthsonian di Washington DC. Saya tidak terpesona sendirian. Dari turis-turis Asia, warga Amerika sampai grup anak sekolah terus membanjiri museum sepanjang hari. Menikmati hal-hal baru yang mereka jumpai di dalamnya.

Jumlah kunjungan ini tentunya berimbas ke penjualan merchandise yang begitu beragam. Transaksi yang terjadi di deretan toko yang hadir di banyak lantai ini menjadi salah satu sumber pemasukan untuk menghidupi museum. Namun, toko bukan satu-satunya tempat transaksi itu berlangsung. National History of Museum memiliki layar bioskop IMAX yang memutar film-film pendidikan dengan tanda masuk berbayar. Belum lagi, pengunjung butuh “teman” lain untuk menyertai tontonan, camilan jagung berondong yang juga mereka beli. Beberapa museum bahkan menyediakan kantin agar pengunjungnya dapat menikmati makanan tanpa harus keluar dari area museum.

Sebagian besar museum utama The Smithsonian terletak di area yang sama dengan National Mall, membuat pelancong sangat nyaman berjalan-jalan di dalamnya. Dalam sehari, pengunjung bisa memilih dan keluar masuk museum sesuka hati tanpa membayar. Tinggal Anda pilih mana yang sesuai minat.

Apabila ingin menyaksikan koleksi gaun dan keramik para ibu negara atau sepatu rubi yang dipakai Dorothy dalam film Wizard of Oz, pengunjung bisa bertandang ke National Museum of American History. Mau melihat berlian Hope Diamond, jangan lupa datang ke Museum of Natural History. Jika ingin tahu lebih banyak sejarah aviasi dari pesawat pertamanya Wright Brothers sampai melihat modul Apollo 11 dan potongan batu dari bulan, National Air and Space Museum menjadi favorit anak-anak maupun dewasa, termasuk saya. Sederet koleksi yang membuat penasaran menunggu Anda di museum-museum lain.

Yang juga menarik, museum-museum gratis ini tidak menjadi kanibal terhadap museum-museum berbayar yang juga tersebar di Washington DC. Newseum yang merekam kisah jurnalisme atau International Spy Museum, contohnya, selalu dipadati pengunjung meski mereka harus merogoh uang setidaknya $20 dari dompetnya.

Bagi mereka, harga yang dibayar tentu sepadan dengan tuntasnya rasa ingin tahu tentang musuh-musuh James Bond di International Spy Museum atau bagaimana penghargaan terhadap jurnalis-jurnalis yang meninggal dalam tugasnya diberi ruang di Newseum. Dengan tema dan pameran yang berbeda-beda, museum-museum ini tetap menarik minat pengunjung yang mungkin belum terpenuhi dari museum gratis di The Smithsonian.

Luar biasanya lagi, ternyata jam operasional tidak membatasi kegairahan orang untuk beraktivitas di museum. Kegiatan tidak berhenti meski museum sudah tutup pada sore hari. Ajang-ajang bertema khusus, pertunjukan musik, tur spesial, sampai kegiatan bersosialisasi ditemani makanan dan minuman digelar untuk menarik pengunjung supaya lebih dekat dengan museum.

Kegiatan ringan yang menyenangkan semacam ini membuat anak-anak muda yang mungkin awalnya tidak familier dengan museum menjadi lebih tertarik untuk mengenal museum. Penjualan tiket khusus untuk acara-acara ini juga bisa menjadi pemasukan yang lumayan bagi museum-museum tersebut. Ide yang sangat cemerlang, bukan?

 

Inovasi Museum Masa Kini 

Di Washington DC, Anda jangan heran kalau museum menjadi tempat pertemuan banyak kalangan. Ruang terbuka di halaman museum, tempat makan di lantai basement museum, sampai bioskop IMAX, menjadi fasilitas pendukung yang substansial.

Dalam kompleks museum, pengunjung juga bisa menikmati wi-fi gratis, berbelanja beragam cendera mata di toko museum, dan pastinya sajian utama itu sendiri, isi museum. Mereka akan dimanjakan dengan banyaknya pilihan jenis ekshibisi museum yang dibuat sedemikian rupa supaya interaktif dan memikat lebih banyak orang yang datang.

Potongan batu dari bulan di National Air and Space Museum, misalnya, dipajang dalam gelas kaca dengan lubang khusus supaya pengunjung bisa menyentuh benda berharga ini secara langsung. Di museum yang sama dengan membayar sekitar Rp 100 ribu, pengunjung juga dapat merasakan simulasi menjadi pilot pesawat tempur atau di luar angkasa. Perasaan menyentuh langsung batu dari bulan atau sesaat menjadi pilot pesawat jet bisa menjadi bahan cerita di media sosial atau untuk teman-teman di rumah. Apalagi museum-museum di Amerika sebagian besar memperbolehkan penggunaan kamera di dalam ruangan.

Kalau tidak terbayang di museum bisa merasakan kehidupan alam, coba Anda kunjungi Butterfly Pavilion di National Museum of Natural History. Karena kapasitas paviliun yang kecil, pengunjung harus membeli tiket terlebih dahulu dengan jam masuk yang ditentukan. Pemilik tanda masuk kemudian dibawa ke ruangan khusus yang dipenuhi dengan tanaman eksotis dan tentunya kupu-kupu dari berbagai negara. Yang menyenangkan, biarpun tidak boleh menyentuh mereka langsung, kupu-kupu ini bisa saja hinggap di badan atau tangan kita selama berada di dalam paviliun sehingga atraksi ini menjadi favorit di kalangan anak-anak. Jika masih belum puas, Anda bisa menambahkan itinerary Butterfly Habitat Garden yang terletak di sebelah timur museum.

Salah satu museum yang paling berkesan pada kunjungan saya di Washington DC adalah International Spy Museum. Yang seru, selain melihat kehidupan dan intrik para agen mata-mata yang sebenarnya atau fiktif, kita bisa menjalankan sebagian kehidupan mereka yang penuh rahasia. Lewat permainan interaktif Operation Spy di dalam museum, siapa saja yang berusia di atas 12 tahun dapat menjadi agen mata-mata di kota khayalan, Khandar dan memecahkan misi khusus dalam waktu satu jam untuk menyelamatkan dunia. Tidak cuma permainan ini, di pameran, barang-barang yang dipamerkan sengaja dibuat interaktif. Contohnya, kita dapat mendengarkan sadapan pembicaraan lewat telepon yang dipajang atau merangkak di saluran udara di langit-langit bak sedang melaksanakan tugas mata-mata. Sungguh mendebarkan dan tidak terduga.

Dengan inovasi-inovasi berkesan yang dilakukan museum-museum ini, pengunjung tidak akan pernah bosan dan malah terus tertarik untuk kembali. Mereka kemudian biasanya juga akan merekomendasikannya kepada rekan-rekannya untuk ikut merasakan apa yang dialami di Washington DC. Museum-museum di ibu kota negara Amerika ini seperti mengajarkan kalau museum tidak harus berkonotasi membosankan. Biarpun yang dipamerkan adalah bagian dari sejarah masa lalu, inovasinya mengikuti masa terkini.


Di Negeri Sendiri

Bagaimana dengan Indonesia? Meskipun tiket masuk relatif sangat murah, museum belum menjadi tujuan wisata utama. Selain cara memamerkan obyek-obyek pameran yang masih sangat sederhana, pemeliharaan gedung museum sering kali memprihatinkan. Karena itulah untuk menggerakan kunjungan ke museum-museum nasional, terutama ke anak muda, akhir-akhir ini banyak kegiatan dilakukan berbagai pihak.

Beberapa waktu lalu, misalnya, berlangsung acara “Museum, Magnified” dari Pecha Kucha Jakarta. Sebuah pertemuan dengan topik museum yang disampaikan lewat metode presentasi singkat. Dalam sekitar 6 menit penjelasan tiap penampil, pengunjung seperti mendapatkan kisi-kisi tentang apa yang ditawarkan banyak museum di Jakarta.

Biarpun daya tarik presentasi berbeda-beda, secara keseluruhan, acara ini terbilang berhasil membangkitkan minat untuk kembali melihat museum. Pengunjung yang menyesaki ruangan terlihat antusias menanggapi presentasi. Ajang lain yang populer juga adalah Dating at the Museum dari The Museum Project yang banyak melakukan promosi lewat media sosial. Program ini mampu memikat lebih dari 200 anak muda hanya dalam 2 hari waktu pendaftaran.

Merek besar seperti Starbucks Indonesia juga bergabung untuk menggalakkan kedatangan ke museum dengan programnya Ayo ke Museum yang sudah berjalan sejak 2008. Pada program ini, Starbucks membagikan tanda masuk gratis ke 19 museum di 10 kota di Indonesia, di antaranya Museum Nasional dan Museum Wayang di Jakarta, Museum Konferensi Asia Afrika di Bandung, Museum Ullen Sentalu di DI Yogyakarta, Museum Arma di Bali, dan banyak lagi. Starbucks terang-terangan menargetkan pasar anak muda usia 20–30 tahun pada programnya ini. Partisipasi merek global juga terlihat di negara tetangga Singapura. Maskapai Singapore Airlines, misalnya, memberikan potongan harga ke delapan museum utama di Singapura untuk para penumpangnya.

Museum menjadi begitu penting karena di sinilah tempat mengenal sejarah bangsa sendiri dan dunia. Belajar dari Washington DC, pembebasan biaya masuk museum kepada pengunjung, lewat bantuan dana dari pemerintah juga tentunya, memang efektif menjadikan museum atraksi yang ramai pengunjung dan tersohor di seluruh dunia. Meskipun demikian, penggratisan dana museum bukanlah satu-satunya cara. Inovasi-inovasi kreatif yang mulai banyak dilakukan juga di Indonesia juga terbukti bisa mengangkat popularitas museum. Sampai bertemu di museum! (Kenny Santana)

Artikel ini pernah dimuat di Kompas Klass.

TOPICS:

Comments (0)

There are currently no comments

Send Your Comment

required

required (not published)

optional