DARI SABANG SAMPAI BANDA ACEH

Awalnya saya tidak pernah kepikiran akan pergi ke Aceh, sampai sebuah pameran wisata menawarkan tiket pesawat dengan harga sangat terjangkau. Berangkatlah saya ke Negeri Serambi Mekah untuk pengalaman yang tidak terlupakan.

Banda Aceh

Setibanya di Bandara Sultan Iskandar Muda pada sore hari, dengan mobil jemputan dari hotel, saya dan teman-teman seperjalanan langsung mengunjungi rumah kecil di kecamatan Jaya Baru yang memajang foto-foto korban tsunami. Melihat sederetan foto-foto itu, kami terhenyak melihat keganasan tsunami memakan para korbannya. Pikiran kami kembali ke tahun 2004 ketika televisi tidak berhenti menyiarkan berita mengenai bencana nasional tersebut.

Kami kemudian menaiki tongkang Pembangkit Listrik Tenaga Diesel yang terdampar persis di depan rumah tersebut. Bayangkan kekuatan gelombang tsunami yang mampu menghempaskan tongkang seberat 2000 ton ini sejauh 5 km dari pantai Ulee Lheue sampai ke lokasinya sekarang. Di dalam tongkang kami bisa melihat sebagian isinya seperti jangkar dan telpon yang sudah berkarat. Di atas dek, pemandangan Banda Aceh dengan pegunungan, mesjid, dan rumah-rumah penduduk langsung memikat hati kami.

Tidak lengkap rasanya ke Aceh sebelum mencobai Mie Aceh, dan kami beruntung tempat kami menginap, Hotel Sulthan dekat dengan salah satu Mie Aceh favorit di Banda Aceh, Mie Razali. Malam itu kami langsung bergegas menuju makan malam kami. Menu di sana sederhana, yakni mie berbagai isi dari daging sapi, ayam, udang sampai kepiting. Kami memesan beberapa macam, tapi sedikit catatan, menu favorit disini adalah mie basah kepitingnya. Buka cangkangnya, keluarkan dagingnya terus dicampur dengan mie yang lumer di mulut adalah kenikmatan tak ada duanya.

Esoknya kami sudah siap untuk mengitari Banda Aceh untuk melihat beberapa tujuan terbaik kota ini. Perhentian pertama (dan utama) tentu saja Masjid Raya Baiturrahman yang dibangun pada tahun 1879. Banyak cerita yang mengulir dari mulut pengendara sekaligus pemilik mobil sewaan kami, Ibu Shara. Bagaimana mesjid ini tidak bergeming saat gelombang puluhan meter menerpa gedung-gedung di sekitar mesjid. Bagaimana keluarganya sendiri ikut menjadi korban tsunami. Menurut cerita si ibu, bukan cuma mesjid ini saja yang kokoh berdiri, tapi beberapa tempat ibadah agama lainnya di Aceh juga tidak rusak karena gelombang tsunami.

Jangan lupa, untuk mengunjungi mesjid ini pengunjung harus berpakaian sopan. Dan khusus untuk wanita, siapkan kain buat menutupi kepala sebelum masuk mesjid. Kami terkagum-kagum dengan desain mesjid yang dirancang oleh arsitek dari Italia dengan inspirasi arsitektur India Utara. Interior mesjid dilapisi marmer Italia dan memiliki 7 kubah, 4 menara, 1 menara induk serta dapat menampung 9000 jama’ah. Dengan luas total sekitar 4 hektar, area mesjid juga meliputi halaman luas dengan kolam di tengahnya.

Selanjutnya, kami berencana untuk mengunjungi Museum Tsunami di kawasan Blangpadang, tapi sayang sekali pada hari itu museum sedang tutup, sehingga kami hanya dapat melihat kuburan kuno dari jaman penjajahan Belanda, Kerkhoff persis di sebelah museum. Kuburan yang jauh dari kesan angker ini memuat kurang lebih 2000 makam penjajah Belanda dari pangkat serdadu sampai jenderal.

Selesai mengambil foto di Kerkhoff, perut kami menagih makan siang dan Restoran Gunung Salju di Jalan Panglima Polem yang terkenal dengan bistik ayam dan es krimnya menjadi pilihan kami. Mungkin kulinernya bukan khas Aceh, tapi menu bistik yang berisi potongan ayam goreng garing yang kemudian diguyur kuah kental disajikan dengan kentang goreng dan salada segar adalah salah satu highlight perjalanan kami. Pesan juga jusnya yang bisa dipadukan es krim berbagai rasa. Nikmatnya.

Kami melanjutkan perjalanan dengan mengunjungi rumah sekaligus museum Cut Nyak Dien dari tahun 1893 yang dibangun ulang tahun 1980 di Desa Lampisang, lalu menghabiskan sore di Pantai Lhok Nga yang sudah mahsyur keindahannya. Sebelum kembali ke hotel, kami masih sempat mampir di pinggir jalan untuk membeli dodol khas Aceh dan penganan kecil lainnya untuk dibawa pulang ke Jakarta.

Bicara soal kuliner Aceh, tentunya pantang untuk melewatkan budaya ngopi di sana. Begitu banyak warung kopi di Aceh yang selalu ramai dipenuhi oleh penduduk lokal (dan pelancong seperti kami!). Tiap warung kopi berbeda-beda pelayanannya, tapi kami suka dengan warung kopi Chek Yukee yang menyajikan semua jajanan pasar untuk dipilih-pilih saat menyeruput Sanger, kopi susu khas Aceh. Beberapa warung kopi bahkan mempertunjukkan peracikan kopi tarik yang caranya mirip seperti pembuatan teh tarik sehingga menjadi atraksi tersendiri.

Untuk menutup hari yang panjang, kami memburu santapan malam di Rumah Makan Khas Aceh Rayeuk untuk mencobai salah satu masakan Aceh lainnya, Ayam Tangkap. Nama yang unik ini berasal dari cara memakannya yakni potongan daging ayam yang bercampur di dalam beragam sayur sehingga kita harus “menangkap” ayam-ayam terlebih dahulu sebelum menyantapnya. Kenyang, lelah, dan tidak sabar untuk menyebrang ke Pulau Weh esok harinya, kami tidur lelap malam itu.

Pulau Weh

Petualangan kami lanjutkan dengan menyeberangi laut Andaman untuk menuju Pulau Weh. Dengan membayar Rp. 65.000 untuk tiket kelas executive kapal express perjalanan ditempuh selama kurang lebih 50 menit. Setibanya di Pulau Weh, kami langsung dijemput di pelabuhan Balohan untuk menuju penginapan kami, Freddies di daerah Sumur Tiga.

Kami langsung terpikat melihat tempat kami menginap selama 2 malam berikut begitu dekat dengan laut. Kamar-kamarnya berbentuk seperti pondokan yang dibuat dari kayu dan bambu. Dengan ketinggian lebih daripada permukaan laut dan balkon pribadi mengijinkan kami untuk menikmati laut lebih dekat lagi. Kami juga menyukai prinsip penginapan yang eco-friendly, dengan penggunaan bahan alami, tanpa AC dan televisi di tiap kamarnya. Siapa yang butuh acara TV ketika pemandangan alam di luar lebih mempesona.

Selepas tidur lelap ditemani suara deburan ombak, kami bangun untuk mendapatkan birunya laut dan langit di seberang kamar. Pagi menjadi lebih sempurna saat kami menikmati sarapan buffet mini di meja kecil restoran seperti hidangan pagi di rumah teman. Freddie, sang pemilik penginapan dari Afrika Selatan dengan keluarga dan staffnya memang membuat kami begitu kerasan di penginapan. Selain sarapan, jangan lewatkan untuk makan malam yang disiapkan sendiri oleh Freddie sendiri. Luar biasa enaknya!

Setelah sarapan, kami langsung menceburkan diri di laut di depan penginapan untuk snorkeling. Jika beruntung Anda bisa melihat kura-kura dan ikan pari saat snorkeling disini.

Kalau belum puas hanya bersnorkeling di Freddies, saya sarankan untuk mengunjungi Pulau Rubiah untuk menyelam seharian penuh. Saat snorkeling, kami puas melihat berbagai jenis ikan berwarna warni hanya sayangnya banyak karang-karang yang sudah mati sehingga sedikit mengurangi keindahan bawah laut. Hal ini tidak menyurutkan semangat kami bersnorkeling tanpa henti.

Pulau kecil ini juga seperti menjadi pulau petualangan dari cerita Lima Sekawan yang menjadi kenyataan dan sekarang menjadi milik pribadi untuk kami jelajahi. Banyak jalan setapak menembus hutan di pulau ini yang bisa dilalui buat yang berjiwa berpetualang. Kami sendiri menemukan tempat persembunyian jauh dari keramaian, bagian laut dangkal yang kami gunakan untuk berendam, bermain air dan pasir serta memandangi laut sesuka hati.

Kembali ke Sabang yang berada di ujung paling barat negeri kita, kamipun tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk mengunjungi monumen kilometer 0. Sayangnya sesampainya disana kami hanya bisa kecewa melihat tempat yang harusnya dapat menjadi atraksi turisme menarik, nyatanya kotor dan tidak terawat tanpa ada banyak hal yang dapat dilakukan pengunjung. Ah, bangsaku...

Demi mengobati kekecewaan, kami meluncur menuju Piyoh Design di Jalan Cut Mutia No 11 untuk membeli cinderamata khas Pulau Weh. Disini terdapat kaos, pin, magnet dengan desain-desain khas distro anak muda tapi tetap menggambarkan orisinalitas kota Sabang dan Pulau Weh. Selain Piyoh, oleh-oleh yang patut dibeli di Sabang adalah Kue Kacang Hijau AG, yakni kue pia yang lebih basah daripada bakpia Yogya dengan pilihan rasa original atau pandan.

Lokasi terbaik untuk menikmati kuliner Pulau Weh adalah di Jalan Perdagangan. Kami menyukai Mie Jalak, yakni mie rebus dengan cincangan ikan pisang yang ditaburi toge dan daun bawang, serta Martabak Terbalik. Martabak ini dinamakan demikian karena kulitnya berada terbalik di dalam kocokan telur yang dicampur dengan bawang merah dan daun bawang. Rasanya yang seperti telur dadar, ditambah kegaringan kulit martabak di dalamnya yang dihidangkan hangat serta dilengkapi segarnya acar timun dan cabe rawit, menjadikannya penganan  yang sempurna.

Saat kami harus kembali ke ibu kota keesokan harinya, hati terasa berat meninggalkan kuliner yang begitu kaya, keindahan alam yang tak terbatas dan penduduk yang begitu ramah. Aceh, kami akan kembali! (Kenny Santana)

 

Garuda Indonesia terbang setiap hari dari Jakarta ke Banda Aceh. Informasi & tiket: www.garuda-indonesia.com


Artikel ini pernah dimuat di Herworld Indonesia.

TOPICS:

Comments (0)

Nissa 1 year, 11 months ago

Pas banget, aku juga mau ke Aceh bulan depan. Kalo boleh tau, hari apa tuh mas Kenny saat museum Tsunami tutup?

Thank youuu!

Reply

Send Your Comment

required

required (not published)

optional