ATRAKSI WISATA BERNAMA BROADWAY

New York kerap diidentikkan dengan Broadway. Citra Broadway yang mementaskan pertunjukan musikal atau teater autentik ini begitu kuat. Boleh dibilang, pengunjung New York pantang melewatkannya dalam rencana perjalanan, di samping Central Park atau Patung Liberty.

Broadway sebenarnya adalah nama jalan di dekat Times Square dengan cabang ke banyak jalan lainnya, yang dipenuhi setidaknya 40 gedung teater yang mulai dibangun sejak awal abad ke-19. Selain itu, kedekatan lokasi dengan Times Square sebagai tujuan turis nomor satu di dunia ini menguntungkan kepopuleran Broadway.

Apalagi, sejak 1973, dibuka gerai TKTS persis di pusat Times Square yang khusus menjual tiket musikal dan teater dengan harga diskon hingga 50 persen. Selama lebih dari 40 tahun, setiap hari, antrean panjang mengular di TKTS Times Square. Hal ini tentu menarik perhatian pengunjung di sekitar yang awalnya mungkin tidak berencana menonton pertunjukan.

Di sisi lain, perjuangan mencari tiket Broadway tidak segampang mengantre di TKTS. Banyak tiket pertunjukan habis sejak jauh hari. Contohnya, untuk The Book of Mormon, tiket biasanya tidak tersisa sejak lebih dari setengah tahun sebelumnya. Alhasil, untuk turis yang baru merencanakan perjalanan dan berkeinginan mendapatkan tiket pertunjukan yang sudah habis, satu-satunya jalan resmi adalah via pengundian yang dilakukan pada hari-H di loket teater atau mengantre untuk mendapatkan jatah spot di area berdiri. Benar, banyak pertunjukan menjual ruang paling belakang kursi untuk menonton dengan harga sangat murah.


Puluhan pertunjukan

Setiap hari, ada puluhan pilihan pertunjukan Broadway yang bisa dipilih pelancong, tergantung waktu berkunjung ke New York. Dari yang klasik seperti The Phantom of the Opera, Chicago, Les Miserables, hingga yang populer macam The Book of Mormon, The Lion King, atau Wicked. Dari yang ditayangkan di Broadway saja macam Spider-Man: Turn Off the Dark yang berakhir masa tayangnya Januari kemarin, sampai yang baru memenangkan Tony Awards, Pippin atau Kinky Boots, Broadway memiliki segala jenis hiburan dari berbagai genre bagi semua penonton.

Broadway memang sebuah bisnis. Selain tiket, sebagai pemasukan, tiap gedung teater menjual makanan dan minuman di bar serta merchandise untuk cendera mata. Bayangkan, untuk sebuah magnet, pengunjung harus mengeluarkan uang setidaknya 10 dollar AS (oleh-oleh yang paling murah). Selain itu, kalau mau mengenakan kaos bergambarkan musikal yang ditonton, uang sebanyak 35 dollar AS harus siap keluar dari kantong pengunjung.  Untuk yang tidak mau mengeluarkan uang di luar tanda masuk, buklet Playbill dengan sampul pertunjukan yang disaksikan dibagikan gratis buat penonton. Pedagang kaki lima di luar gedung pertunjukan juga banyak menjajakan lukisan atau suvenir tidak resmi yang lebih murah.

Setelah melihat-lihat barang dagangan di gedung teater, biasanya penulis berusaha masuk ke ruangan tidak terlalu mepet dengan jam mulai untuk “menemukan” obrolan menarik dengan penonton di sekitar. Dimulai dari sapaan “Hi”, berlanjut ke percakapan mengenai pentas yang akan ditonton dan tentang Kota New York. Broadway mempersatukan para penikmat musikal di dalam suatu ruangan. Kami tertawa, bernyanyi, bertepuk tangan, atau bahkan menangis bersama dalam kegelapan gedung layaknya perkumpulan pecandu musikal.

Bintang-bintang

Pengalaman menonton di Broadway belumlah lengkap tanpa mencari pertunjukan teater yang dihiasi penampilan bintang-bintang Hollywood. Ini juga menjadi daya tarik tersendiri. Bayangkan Tom Hanks, Al Pacino, Nicole Kidman, Julia Roberts, dan nama lainnya pentas di atas panggung dan dapat disaksikan siapa pun yang mau membayar tiket. 

Penonton berbondong-bondong melihat langsung akting bintang pujaan yang biasa disaksikan di layar lebar. Sebuah atraksi khusus untuk para turis lokal maupun mancanegara ketika bintang-bintang tersebut ke luar pintu teater saat selesai acara. Para bintang memberikan tanda tangan dan berfoto bersama penggemar.

Ketika penulis menonton teater Of Mice and Men tahun lalu, misalnya, ratusan penggemar sudah menunggu James Franco untuk mendapatkan tanda tangan dan foto bersama usai pertunjukan. Setelah semua pemeran lain keluar, biasanya sang bintang utama akan muncul terakhir. Saat itu, James Franco keluar dan memberikan beberapa tanda tangan saja. Bukan itu saja, Franco bahkan bersedia melakukan selfie dengan hampir semua penonton yang menunggunya. Saya termasuk salah satunya. Begitu pula kesempatan untuk foto bareng Michelle Williams di stage door pertunjukan Cabaret tidak saya sia-siakan.

Menunggu Indonesia

Fenomena pertunjukan musikal juga menjalar ke seluruh dunia. Banyak musikal yang berawal dari Broadway menggelar tur di negara-negara lain dengan pemeran yang kelasnya hampir sama atau bahkan setara dengan pelaku Broadway. Singapura, contohnya, pernah menayangkan The Phantom of the Opera, The Lion King, Wicked, Annie dan yang akan datang, Grease dan The Sound of Music.

Sayangnya, sampai saat ini, Indonesia belum pernah berkesempatan menayangkan musikal internasional meski pernah sukses dengan musikal lokal Onrop dan Laskar Pelangi. Yang pertama kali mungkin STOMP yang akan hadir bulan Oktober nanti di Taman Ismail Marzuki. Mungkinkah karena belum ada gedung pertunjukan layak atau keragu-raguan promotor akan jumlah penonton yang tidak cukup untuk menutup biaya mendatangkan musikal kelas dunia?

Dengan kenyataan tersebut, akhirnya tiap melancong ke New York, penulis menjatahkan banyak waktu menonton di Broadway. Tidak semata tontonan, Broadway merupakan pengalaman sesungguhnya, dari perjuangan mencari tiket, pertemuan dengan sesama penggemar teater, sampai berburu kenang-kenangan pribadi dari bintang pujaan.

Bagi banyak orang, Broadway bukan lagi pengisi waktu senggang di perjalanan, melainkan telah menjadi tujuan wisata itu sendiri. Tahun ini mungkin waktu terbaik untuk mengunjungi Broadway dengan bertaburnya nama seperti Bradley Cooper, Jake Gyllenhaal, Carey Mulligan, sampai Helen Mirren yang manggung. Belum lagi pementasan Finding Neverland, The King and I, An American in Paris juga diramalkan membuat Broadway lebih menggiurkan daripada biasanya.

 

Bermacam Cara Mendapat Tiket Terjangkau

Menonton pertunjukan di Broadway tidak berarti harus mengeluarkan uang banyak. Ada berbagai cara untuk mendapatkan tiket dengan harga terjangkau, bahkan bisa saja lebih murah daripada menonton pertunjukan di negeri sendiri.

Itulah hebatnya bisnis pertunjukan di negara maju, yang selalu ramai dan dipenuhi penonton. Dampaknya, subsidi silang bisa dilakukan sehingga ada tiket-tiket yang bisa dijual murah. Harga rendah ini tentu saja memiliki syarat-syarat tertentu.

Yang paling umum adalah tiket rush, yakni tiket dalam jumlah terbatas yang dijual pada hari-H dengan lokasi biasanya paling depan sehingga agak mendongak ke panggung atau paling belakang di lantai atas. Namun, lokasi menjadi kurang penting karena harga yang ditawarkan bisa sampai seperlimanya.

 

Beragam Tiket Murah

Tiket murah memang beragam. Ada rush yang dijual sejak dari pagi harinya dan tersedia bagi yang mengantre paling dulu. Beberapa pertunjukan bahkan melakukan pembatasan siapa yang dapat membeli tiket rush ini, yakni hanya para pelajar atau mereka di bawah umur 35 tahun sehingga harus menunjukkan tanda pengenal saat membeli.

Ada juga yang lotere sehingga penonton yang ingin membeli tiket lebih murah harus datang ke kasir, biasanya 2,5 jam sebelum pertunjukan untuk menuliskan nama dan jumlah tiket yang diinginkan (maksimal 2 tiket). Kemudian, dilakukan undian sekitar 2 jam sebelum pertunjukan. Para pemenang harus segera membayar yang umumnya dalam bentuk tunai. Musikal The Book of Mormon yang kalau dibeli jauh-jauh hari harganya sekitar 179 dollar AS per tiket, di lotere hanya 32 dollar AS.

Selain tiket rush atau lotere, ruang di paling belakang bangku juga dijual sebagai standing room dengan harga sangat murah, sekitar 20-30 dollar AS. Tentunya lagi-lagi tiket yang tersedia sangat terbatas sehingga peminat harus mengantre berjam-jam sebelum pertunjukan mulai untuk mendapatkannya.

Jika kita malas mencoba peruntungan untuk tiket rush, lotere atau standing room, tersedia pula jalan lain mendapatkan tiket diskonan, yakni melihat infonya di situs Playbill.com atau membeli di gerai diskon TKTS di Times Square dengan potongan mencapai 50 persen dari full price. Bedanya, diskon di Playbill atau TKTS kebanyakan tidak tersedia untuk pentas yang sangat populer, misalnya Wicked, karena yang ditawarkan adalah tiket sisa yang belum terjual. Mereka yang membeli dari Playbill atau TKTS tidak perlu duduk mendongak atau harus berdiri karena tiketnya adalah yang terbaik pada saat dijual.

Penulis selalu menggunakan jasa TKTS, terutama untuk menghemat budget tiket menonton musikal yang biasanya di atas 100 dollar AS. Pertunjukan yang ditawarkan dengan harga diskon bisa penulis ketahui dengan mengunduh aplikasi mobile-nya terlebih dahulu. Namun, transaksi tetap harus dilakukan di loket TKTS secara langsung.

 

Raih Semua Kalangan

Menariknya, fenomena tiket murah ini membuka kesempatan bagi banyak orang untuk bisa menonton pertunjukan Broadway. Alih-alih mengeksklusifkan diri dengan harga yang mahal, Broadway hendak meraih semua kalangan dengan menawarkan tiket serendah 27 dollar AS (sekitar Rp 300 ribu saja), lebih murah daripada pertunjukan musikal lokal di ibu kota negara kita, misalnya.

Faktor jumlah penonton tentu berperan penting di sini. Broadway tiap hari dijejali penonton, sedangkan musikal lokal masih berjuang mencari penonton. Kapasitas teater di Broadway juga berlipat-lipat dari kapasitas venue di Jakarta. Selain itu, frekuensi pertunjukan yang nyaris tiap hari jelas berperan penting dalam penyediaan tiket dengan harga lebih murah.

Namun, tidak ada salahnya promotor pertunjukan di Indonesia mencoba trik dari Broadway dalam memberikan promosi tiket murah meski dibatasi jumlahnya. Dengan pilihan tiket pertunjukan yang terjangkau, lebih banyak lagi pelajar atau kalangan menengah yang dapat menikmati indahnya seni panggung. Tak kenal, maka tak sayang, bukan? (Kenny Santana)

Artikel ini pernah dimuat di Kompas Klass.

TOPICS:

Comments (0)

There are currently no comments

Send Your Comment

required

required (not published)

optional