3 DAYS TO FOREVER IN GUILIN

Ketika terbayang wisata ke Cina, kebanyakan orang mungkin hanya berpikir tentang Beijing atau Shanghai. Saya terbang ke Guilin untuk menemukan negeri tirai bambu sesungguhnya.

 

First Day

Tiba di bandara Guilin dari penerbangan dari Kuala Lumpur sekitar tengah hari, mobil transfer yang menjemput dari Sheraton Guilin langsung membawa kami ke akomodasi di pusat kota ini dengan perjalanan kurang lebih 1 jam.

Sepanjang perjalanan kami dapat melihat bukit-bukit di sekeliling jalan raya yang seperti dibangun untuk menyambut pelancong dari luar. Daerah Guilin memang sudah sejak lama terkenal dengan kehadiran banyak bukit yang menjulang dimana-mana.

Setelah check-in dan menyegarkan diri, kami tidak ingin menyia-nyiakan waktu ½ hari untuk langsung menjelajahi kota. Perhentian pertama kami putuskan untuk mengunjungi simbol Guilin, Elephant Trunk Hill.

Dari namanya, bisa ditebak kalau Elephant Trunk Hill adalah bukit yang bentuknya menyerupai belalai gajah. Dengan membayar 33 yuan (sekitar Rp. 48.000) untuk tanda masuk, pengunjung dapat mengabadikan foto persis di depan bukit yang terletak di sungai Li ini lalu meneruskannya naik bukit untuk pemandangan mengesankan kota. Untuk mengitari bukit dari jarak lebih dekat, banyak pelancong juga yang memanfaatkan jasa rakit bambu.

Waktu kami tidak banyak untuk Elephant Trunk Hill karena harus segera beranjak ke tujuan selanjutnya, Reed Flute Cave. Sekitar 5 km keluar dari pusat kota, saya dan teman-teman seperjalanan memanggil taksi untuk menuju gua kebanggaan pariwisata Guilin ini.

Sedikit informasi tarif taksi di Guilin sangat terjangkau, dengan supir-supir yang pada umumnya ramah. Saran saya, jika tidak bisa berbahasa Mandarin, mintalah bantuan concierge hotel untuk menuliskan tempat-tempat tujuan dengan huruf kanji Mandarin sehingga tidak akan tersesat.

Tiba di Reed Flute Cave, antrian tampak cukup panjang untuk memasuki gua ini. Dan ketika kami memasuki, kami tahu kenapa. Di dalam kegelapan kami takjub melihat kecantikan gua. Beragam susunan stalaktit dan stalakmit alami secara kebetulan menciptakan bentuk-bentuk binatang, manusia sampai bangunan tertentu.

Menariknya badan turisme kota dengan pandainya menghiasi gua ini dengan lampu warna-warni sehingga memperkuat pesona gua. Contohnya di satu bagian gua yang dialiri sungai kecil disorot dengan lampu berwarna biru menimbulkan kesan magis gua. Menakjubkan. 

Selesai dengan Reed Flute Cave, waktu semakin sore tapi kami masih memiliki waktu untuk mengunjungi Jingqiang Princes City. Komplek kota tempat tinggal para keluarga istana jaman dulu ini telah berumur lebih dari 600 tahun dan sekarang digunakan sebagai obyek wisata.

Di dalam kompleks terdapat bangunan-bangunan yang menyimpan sejarah bangsa Cina, salah satunya adalah Changyun Palace yang dibangun pada jaman dinasti Ming. Pada abad ke-14 bangunan ini digunakan sebagai kantor administrasi kota, tapi karena pernah kebakaran dua kali di dinasti Qing, pelancong jaman sekarang hanya dapat menikmati hasil renovasi gedung orisinalnya.

Bagian paling menarik dari Princes City adalah Solitary Beauty Peak atau sering juga disebut Duxiu Peak dimana pengunjung dapat mendaki bukit yang memiliki 306 steps anak tangga menikmati cantiknya kota Guilin dari ketinggian 66 meter. Saran kami, kunjungi Peak ini sebelum singgah ke gedung-gedung lain di dalam kompleks, karena begitu hari mulai gelap bukit akan ditutup untuk umum.

 

Second Day

Keesokan harinya bookinglah paket tur ke Longji Terrace Field yang berada di Longsheng, 2 jam perjalanan mobil dari Guilin. Biaya tur berkisar 160 yuan (Rp. 230.000) dan dapat dengan mudah dibook dari hotel tempat menginap. Pastikan tur akan dibawakan oleh guide yang berbahasa Inggris, karena banyak tur yang hanya menggunakan bahasa Mandarin.

Setelah bus tiba di desa Longsheng, pelancong harus pindah ke mini van untuk menuju kaki bukit Longji karena jalan kecil yang curam dan berkelok-kelok. Saat kami didrop dari van tersebut, perjalanan ternyata masih harus dilanjutkan dengan memanjat bukit demi menikmati menu makan siang tradisional. 

Makan siang kami begitu mengesankan karena di tengah sejuknya udara bukit, kami dihidangkan hidangan khas daerah ini, bamboo rice dan bamboo chicken. Nasi dan daging ayam masing-masing dikemas di dalam jepitan bamboo lalu kemudian dibakar dalam api. Alhasil aroma nasi dan daging menjadi kuat berpadu dengan bakaran bambu sehingga lebih terasa nikmatnya. Siapkan kamera saat bambu dibuka yang langsung mengepulkan asap hangat diatas meja makan.

Done with lunch, rasanya energi kami cukup banyak untuk diajak mendaki bukit demi pemandangan hamparan hijau sawah-sawah bersusun. Sepanjang jalan bertapak yang kami lalui, pemandangan sawah berbalut kabut pegunungan tidak pernah luput dari penglihatan. Sekedar informasi sawah-sawah ini sudah ada sejak 500 tahun lalu sejak jaman dinasti Ming.

Buat yang tidak kuat berjalan kaki, banyak jasa tandu yang akan membawa Anda sampai puncak gunung. Kami sendiri, dengan usaha sendiri akhirnya tiba di puncak bukit demi mereguk pemandangan terbaik ke sawah yang berlapis-lapis dikelilingi bukit dan lembah. It’s a piece of heaven on earth.

Kembali ke kota dari Longji, saatnya menikmati malam terakhir di Guilin sebelum beralih ke Yangshuo dengan cruise esok pagi hari. Pusat kota Guilin yang penuh keramaian ada di Zhengyang Pedestrian Street. Jalanan sepanjang 666 meter bebas kendaraan bermotor ini dipenuhi toko-toko, butik, dan café untuk bersantai. Luangkan waktu bermakan malam disini untuk menikmati suasana kosmopolitan kota Guilin sebelum beranjak mengitari pasar malam di ujung jalan.

Pasar malam Guilin berada di jalan utama Zhong Shan Road dan berlangsung setiap malamnya mulai dari jam 6 sore. Beragam souvenir, pakaian dan segala jenis pernak-pernik bisa diperoleh disini. Ingat, jangan lupa untuk menawar harga yang diajukan. Tenang saja, semua penjual menyiapkan kalkulator untuk sarana transaksi buat yang tidak berbahasa Mandarin.

 

Final Day

Perjalanan ke Guilin tidak sempurna tanpa menikmati cruise di sungai Li menuju Yangshuo. Terdapat banyak pilihan paket cruise selama kurang lebih 4 jam ini dari travel agent atau tempat hotel menginap. Kami memilih cruise seharga 350 yuan (Rp. 510.000) termasuk transfer dari hotel, lunch di kapal dan guide berbahasa Inggris.

Setelah dijemput di lobby hotel pada pukul 8 pagi, van mengantarkan kami ke pelabuhan yang ditempuh dalam 40 menit. Di pelabuhan kami bergabung dengan para peserta cruise lain yang kebanyakan dari negara berbahasa Inggris. Patut diingat pelabuhan ini menampung banyak kapal yang semuanya akan berlayar ke Yangshuo, jadi jangan sampai kehilangan grup tur masing-masing!

Guide kami yang bernama Hu memberikan peta sungai Li dengan highlight di beberapa spot yang pantang dilewatkan selama cruise. Dan pelayaran pun dimulai. Di dalam kapal, turis dapat memilih untuk duduk di ruangan indoor menikmati sungai dari balik kaca bening, atau naik ke atas deck dengan udara bebas.

Bukan berlebihan kalau penampilan bukit-bukit liar di sepanjang sungai yang diselimuti kabut ini secantik lukisan Cina klasik. Untuk sesaat pikiran kami dibawa melayang ke film-film silat jaman dulu. Rasanya tidak percaya keindahan alam semenawan ini hadir di depan mata. 

Salah satu perhentian penting selama pelayaran adalah Nine Horse Fresco Hill yang tampak seperti memiliki sembilan kuda pada muka bukitnya. Uniknya tidak banyak orang yang bisa menangkap jumlah kuda pada bukit ini. Mereka yang bisa mendapatkan persis sembilan kuda dianggap akan mendapat peruntungan di kemudian hari.

Saat menikmati makan siang yang dihidangkan hangat di dalam kapal, jangan takut untuk ketinggalan spot-spot menarik bahan berfoto. Tour guide yang baik akan memanggil tamu saat ada landmark yang dilewati kapal.

Saking bersejarahnya rute pelayaran Guilin – Yangshuo ini, salah satu sudutnya diabadikan dalam lembaran uang 20 yuan. Siapkan uangnya dan carilah lokasi terbaik saat kapal melewati putaran Xingping dimana pemandangan bukit di cetakan 20 yuan itu muncul menyapa penumpang kapal dengan lensa kameranya. It’s one more time to take your picture-perfect moments! (Kenny Santana)

 


The Place To Stay

Salah satu hotel bintang 5 di kota ini, Sheraton Guilin berada persis di tengah kota dengan akses mudah kemanapun. Terdapat 430 kamar termasuk 17 suite di hotel yang baru direnovasi pada tahun 2008. Setiap kamarnya dilengkapi dengan TV LCD dan koneksi internet. Pilihlah kamar di lantai atas dimana dari balik jendela dapat terlihat pemandangan sungai Li. Breakfast di Sheraton adalah salah satu hal yang dibanggakan hotel ini dengan menu yang lengkap dari American style dan tentu saja Chinese cuisine. Para staf sangat helpful dengan bahasa Inggris yang sempurna. Highly recommended. 15 Bin Jiang Road www.starwoodhotels.com

Guilin, Hollywood Style

Untuk mendapatkan bayangan seperti apa pemandangan Guilin, tontonlah film The Painted Veil yang dibintangi Edward Norton & Naomi Watts yang disyuting dengan latar belakang keindahan alam Guilin. Kalau jatuh hati dengan pemandangan yang ada sepanjang film ini, percaya kata saya, tampak aslinya jauh lebih indah.

Getting There & Around

Saya berangkat ke Guilin dengan AirAsia (www.airasia.com) dengan transit di Kuala Lumpur. Di Guilin, gunakan moda taksi yang murah dan dapat diandalkan untuk berpindah dari satu obyek wisata ke tempat lainnya. 

Artikel ini pernah dimuat di Elle Indonesia.

Foto-foto oleh: Kurniawati & Yungni Mulyadi

TOPICS:

Comments (0)

doacasino 1 year, 8 months ago

I read this piece ᧐f writing ⅽompletely regarding the difference oof most гecent
and preceding technologies, it'ѕ awesomme article.

Reply

Send Your Comment

required

required (not published)

optional